Apakah Semua Sholat Fardhu Paling Utama Dikerjakan di Awal Waktu?

Seutama-utamanya shalat adalah sholat yang dikerjakan pada awal waktu, karena itulah yang diamalkan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan beliau orang yang paling pertama dan semangat dalam kebaikan.

Dalam Shahih Bukhari dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu `anhu bahwa ia pernah ditanya perihal shalat wajib Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, ia menjawab, “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melaksanakan shalat Zhuhur ketika matahari mulai bergeser -dalam sebuah riwayat: ketika telah tergelincir-, dan shalat Ashar ketika seseorang kembali ke rumahnya di tengah kota sedangkan matahari mulai menurun.”

Adapun shalat Maghrib, Imam Muslim telah meriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam shalat Maghrib apabila matahari telah terbenam dan hilang dari pandangan. Rafi’ bin Khadij radhiyallahu `anhu berkata, “Kami pernah shalat maghrib bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ketika seseorang pulang ia masih bisa melihat sasaran busurnya.”

Untuk shalat Isya’ diterangkan dalam Shahih Muslim radhiyallahu `anhu berkata, “Kami pernah menunggu kehadiran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk shalat Isya’. Pada suatu malam beliau keluar telah lewat sepertiga malam, dan berkata, ‘Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan shalat bersama mereka seperti waktu sekatang ini.’ Kemudian beliau memerintahkan muadzin untuk menegakkan shalat (iqamat).”

Yang dimaksud sepertiga malam pada hadits tersebut adalah sepertiga malam awal dari total waktu antara waktu Maghrib dan Shubuh.

Misalnya, di wilayah Indonesia bagian barat di bulan Oktober, waktu Maghrib sekitar pukul 17.40 WIB dan waktu Shubuh sekitar pukul 04.10 WIB, maka jarak antara antara awal waktu Maghrib hingga awal waktu Shubuh adalah 11,5 jam. Jadi, sepertiga malam awalnya sekitar pukul 21.28 WIB. Adapun akhir waktu shalat Isya` adalah akhir awal dari seperdua malam. Semisal contoh kasus di atas, maka akhir waktu shalat Isya` di wilayah tersebut sekitar pukul 23.25 WIB (pen).

Waktu sholat Shubuh sebagaimana diterangkan dalam Shahih Bukhari, Aisyah radhiyallahu `anha berkata,

“Kami dahulu para wanita kaum muslimin pernah shalat Shubuh berjama`ah bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Mereka semua memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Ketika shalat telah selesai, meeka langsung lembali ke rumah dan tiak ada seorang pun yang mengenali mereka karena masih gelap.”

Sholat Zhuhur diterangkan dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu `anhu, dia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, kemudian mu’adzin hendak adzan Zhuhur. Melihat hal itu Nabi shallallahu `alaihi wa sallam berkata, “Tunda dulu sampai cuaca agak dingin.” Ia pun menaati perintah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Setelah menunggu ia hendak adzan kembali, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Tenang, biar agak dingin dahulu.” Hingga kami melihat bayangan itu sudah condong, beliau pun bersabda, “Sesungguhnya panasnya siang hari termasuk hembusan panas neraka Jahannam. Maka apabila siang hari sangat panas, tundalah shalat Zhuhur hingga agak dingin.”

Berdasarkan hadits-hadits di atas jelaslah bahwa yang sunnah (mustahab) adalah mengerjakan sholat pada awal waktunya kecuali dua shalat:

  1. Shalat Zhuhur, ketika siang sangat panas maka diakhirkan hingga agak mendingin dan bayangan memanjang.
  2. Shalat Isya’ yang terakhir, diakhikan hingga sepertiga malam kecuali dikhawatirkan akan memberatkan. Maka harus diperhatikan keadaan makmum, apabila mereka telah berkumpul hendaklah shalat disegerakan apabila makmum datang terlambat, shalat boleh diakhirkan.

Sumber: https://muslimah.or.id/189-dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

Mengerjakan Sholat pada Waktunya

Sholat adalah wajib hukumnya untuk dikerjakan pada pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 103 yang artinya:

“…sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Serta hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyebutkan perihal shalat dalam sehari, beliau bersabda (yang artinya).

“Barangsiapa yang mampu menjaganya, maka baginya cahaya penerang dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka dia tidak akan mendapat cahaya penerang dan keselamatan pada hari kiamat, ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.” (Imam Mundziri berkata, “HR. Ahmad dengan sanad yang bagus”)

Tidak Boleh Mendahului Waktu Sholat atau Mengakhirkannya

Seorang muslim tidak boleh mendahului untuk mengerjakan sholat seluruhnya atau sebagiannya sebelum masuk waktunya karena hal itu melanggar ketentuan Allah dan mempermainkan ayat-ayat-Nya. Apabila ia melakukannya karena udzur (seperti: jahil, lupa, atau lalai) maka ia tidak berdosa dan tetap mendapat pahala. Dia tetap wajib menunaikan shalat apabila waktunya telah masuk.

Seorang muslim tidak boleh pula mengakhirkan shalat dari waktunya. Apabila ia melakukannya tanpa alasan syar`i maka ia berdosa, shalatnya tidak diterima, dan wajib atasnya bertaubat dan memperbaiki amalannya di masa yang akan datang. Akan tetapi apabila ia mengakhirkan shalat karena udzur yang syar`i (seperti tertidur, lupa, dan lain-lain), hendaklah ia shalat pada saat udzurnya telah hilang. Berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ingat dan tidak ada kafarahnya selain itu saja.” Dalam riwayat yang lain: “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur.” (Muttafaq `alaih)

Apabila sholat yang tertinggal karena udzur itu banyak, maka dikerjakan secara berurutan ketika udzurnya telah hilang dan tidak ditunda hingga esok hari. Berdasarkan hadits Jabir bin Abdullah radhiyallu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam saat perang Khandaq beliau berwudhu setelah matahari terbenam, kemudian beliau shalat Ashar dan diikuti dengan shalat Maghrib. (Muttafaq `alaih)

Sebagian ahli ilmu mengatakan, apabila seseorang mempunyai shalat yang tertinggal dan ia baru ingat ketika waktu shalat yang ada saat itu sudah hampir habis, maka hendaklah ia shalat yang ada pada waktu itu kemudian baru mengerjakan shalat yang tertinggal, agar ia tidak tertinggal shalat yang ada hingga nantinya menjadi dua shalat yang teringgal.

Sumber: https://muslimah.or.id/189-dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

Kapan Waktu Sholat Itu Tiba?

Syariat Islam telah memaparkan dengan jelas dan gamblang tentang masalah waktu-waktu sholat, yaitu di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Berikut ini dalil-dalil yang menjelaskan tentang waktu-waktu shalat.

Allah berfirman, dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 78 yang artinya sebagai berikut:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).

“dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam” Firman Allah tersebut menerangkan kepada kita waktu-waktu sholat yang empat, yaitu:

  • Zhuhur dan Ashar. Keduanya adalah shalat yang dikerjakan di waktu siang yaitu pada separuh siang yangterakhir.
  • Maghrib dan Isya’. Keduanya adalah shalat di waktu malam yaitu paruh pertama dari malam hari.

Adapun waktu shalat Shubuh dijelaskan dengan firman-Nya “dirikanlah pula shalat Shubuh”. Dari sini diketahui bahwa shalat Shubuh itu ketika fajar, yaitu terlihatnya sinar matahari di ufuk.

Adapun dalil-dalil as-Sunnah tentang waktu sholat, diantaranya ialah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu `anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Waktu shalat Zhuhur adalah setelah tergelincirnya matahari sampai saat bayangan seseorang sama seperti tingginya selama belum masuk waktu Ashar. Waktu shalat Ashar selama matahari belum menguning, sedangkan waktu Maghrib selama awan merah di langit belum hilang. Adapun waktu shalat Isya’ hingga tengah malam yang pertengahan, dan waktu shalat Shubuh sejak terbitnya fajar hingga sebelum terbitnya matahari.”

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa waktu shalat Isya’ hingga tengah malam dan tidak diterangkan tengah malam yang pertengahan.

Berikut perinciannya lebih detail dari ayat Al-Qur’an dan hadits tentang waktu sholat yang lima:

  1. Waktu shalat Zhuhur

Waktu sholat dzuhur mulai tergelincirnya matahari -yaitu matahari yang telah melintasi pertengahan langit- hingga tatkala bayangan segala sesuatu itu menjadi sama panjang dengannya, diawali dari bayangan ketika tergelincirnya matahari.

Lebih jelasnya, apabila matahari terbit maka bayangan segala sesuatu itu panjang lalu akan terus menerus memendek sampai tergelincirnya matahari. Apabila matahari telah tergelincir, bayangan akan kembali memanjang. Maka saat itulah masuk waktu sholat Zhuhur, kiaskanlah mulai dari kembalinya panjang bayangan matahari, apabila panjang bayangan sesuatu sudah sama, maka waktu Zhuhur telah habis.

  1. Waktu shalat Ashar

Waktu sholat Ashar dimulai ketika keadaan bayangan sesuatu sama panjang dengannnya, sampai saat matahari menguning atau memerah. Waktu ini bisa memanjang sampai terbenam matahari karena dharuri (darurat), bersadarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu `anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, maka sungguh dia telah mendapati shalat Shubuh. Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalt Ashar sebelum terbenamnya matahari, maka sungguh dia telah mendapati shalat Ashar.” (Muttafaq `alaih)

  1. Waktu shalat Maghrib

Waktu sholat Maghrib mulai dari terbenamnya matahari hingga hilangnyaawan merah.

  1. Waktu shalat Isya’

Waktu sholat Isya’ mulai dari hilangnya awan merah di langit hingga tengah malam, dan waktunya tidak bisa diperpanjang sampai terbit fajar karena hal itu menyelisihi zhahir nash (dalil) al-Quran dan hadits. Firman Allah (yang artinya), “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam,” Allah tidak mengatakan sampai terbit fajar. Demikian pula waktu Isya’ berakhir sampai tengah malam sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu `anhuma.

  1. Waktu shalat Shubuh

Waktu sholat Shuhuh mulai dari terbitnya fajar shadiq -yaitu bayangan putih yang membentang di ufuk timur, setelahnya tidak ada lagi kegelapan hingga terbitnya matahari.

Waktu-waktu shalat ini hanya pada wilayah yang malam dan siangnya 24 jam, sama saja malam dan siangnya sama panjang atau salah satunya lebih panjang atau lebih pendek.

Adapun pada wilayah yang malam dan siangnya bukan 24 jam maka keadaannya bisa jadi hal itu terjadi sepanjang tahun atau hanya pada sebagian hari saja.

Apabila terjadi hanya pada sebagian hari-hari saja, misalkan suatu malam dan siang 24 jam sepanjang musim dalam setahun; tetapi tahun berikutnya pada sebagian musim, malam menjadi 24 jam atau lebih, demikian pula siangnya. Maka dalam keadaan seperti ini bisa dilihat tanda yang terlihat di ufuk yang memungkinkan penentuan waktu, seperti bertambahnya cahaya atau redupnya secara keseluruhan. Hukumnya dikaitkan dengan tanda yang terlihat di ufuk. Jika tidak bisa demikian, maka waktu shalat dikira-kirakan pada akhir harinya sebelum datang malam yang panjanganya 24 jam atau siangnya 24 jam.

Apabila daerah yang malam dan siangnya bukan 24 jam, sepanjang tahun pada seluruh musim, maka waktu shalat ditentukan dengan dikira-kirakan.

Bagaimana kita memperkirakannya? Sebagian ulama berpendapat, hal itu diperkirakan dengan waktu yang pertengahan, malam diperkirakan 12 jam, dan demikian pula siangnya. Sebagian ulama lainnya berpendapat, waktu shalat diperkirakan dengan melihat negeri yang dekat dari daerah tersebut. Inilah pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kenyataan. Allahu a`lam.

Sumber: https://muslimah.or.id/189-dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

Siapakah yang Wajib Melaksanakan Sholat?

Orang-orang yang wajib mengerjakan sholat.
Shalat wajib dikerjakan oleh setiap muslim dan muslimat yang telah baligh dan berakal, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (3513), Sunan Abu Daud (12/78/4380) yang artinya sebagaimana berkut:

“Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang maknanya), “Pena diangkat atas tiga golongan: dari orang yang sedang tidur hingga dia bangun, dari anak kecil hingga dia dewasa, dan dari orang gila hingga dia waras (berakal).”

Wajib atas orang tua muslim untuk membiasakan anak-anaknya melaksanakan sholat sedari kecil meskipun anak-anak tersebut belum wajib melaksanakan sholat, kewajiban ini berdasarkan hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (5868), Sunan Abu Daud (2/162/419) lafazh hadits ini adalah riwayat Abu Daud, Ahmad (2/237/84), Hakim (1/197) yang artinya sebagai berikut:

“Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya), “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Tanda baligh bagi laki-laki dan perempuan adalah:

  1. Telah mencapai usia 15 tahun. Berdasarkan hadits tentang seorang anak laki-laki (yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu) yang belum dizinkan ikut berperang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena saat itu belum berusia 15 tahun.
  2. Telah mengalami “mimpi basah”.
  3. Tumbuh rambut pada kemaluan.
  4. Khusus bagi wanita, yaitu keluarnya darah haid dari farji.

Seorang muslim wajib mengerjakan sholat sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kewajiban tersebut dilaksanakan semaksimal kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak melakukan sholat ketika tidak ada udzur syar’i (misalnya: wanita yang sedang haid atau nifas). Jika seseorang mampu shalat berdiri, maka dia melakukannya sambil berdiri dengan menyempurnakan syarat sah dan rukunnya. Jika dia sakit, maka dia mengerjakannya sambil duduk. Jika tidak bisa sambil duduk, maka dilakukan sambil berbaring.

Sumber: https://muslimah.or.id/181-dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

Apakah Hukum Meninggalkan Sholat?

Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat

Telah menjadi kesepakatan kaum muslimin bahwa barangsiapa yang tidak menunaikan sholat lima waktu maka dia telah melakukan suatu perbuatan yang mengantarkannya kepada kekafiran.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum orang yang meninggalkan sholat tetapi orang tersebut tetap meyakini bahwa sholat itu wajib dikerjakan. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat adalah kafir, tanpa ada pembedaan yang tegas antara orang yang benar-benar mengingkari kewajiban sholat (al-jaahid) dengan orang yang sekedar meremehkan kewajiban shalat (al-mutahaawin).

Adapun pendapat yang lebih kuat dalam permasalahan ini adalah bahwa orang yang meninggalkan pelaksanaan shalat (meskipun dia yakin bahwa sebenarnya shalat itu wajib dikerjakan) maka dia telah kafir. Hal ini berdasarkan Dalil dari Al-Quran, Surah At-Taubah ayat 11, yang artinya:

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 11)

Serta Dalil dari Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Iman dari sahabat Jabir Ibn ‘Abdillah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya sebagai berikut:

“Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.”

Sumber: https://muslimah.or.id/181-dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

Kedudukan Sholat dalam Islam

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa sholat adalah ibadah yang paling utama untuk ditunaikan. Salah satu keutamaan shalat adalah bahwa sholat merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab di Hari Akhir kelak berkaitan dengan hak Allah atas hamba-Nya.

Sholat menempati kedudukan yang sangat mulia dalam agama Islam, hal ini sebagaimana yang dijelaskan melalui hadits dari ‘Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut ini:

‘Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya):

“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.”

Sumber: https://muslimah.or.id/181-dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

Show Buttons
Hide Buttons