Jadwal Sholat Digital untuk Mushola Anda Di Rumah

Jadwal sholat digital elektronik otomatis yang sangat cocok untuk Mushola Anda Di Rumah.

Jadwal sholat digital elektronik otomatis – Kini semakin banyak orang yang memilih desain-desain unik untuk rumah yang dimiliki. Mulai dari sekedar desain unik yang minimalis hingga desain unik yang rumit, setiap orang memiliki selera masing-masing. Namun untuk umat muslim khususnya yang sudah berkeluarga biasanya mereka akan memberikan satu space yang khusus digunakan untuk beribadah bersama. Untuk besar kecilnya ruangan yang dijadikan tempat beribadah, biasanya disesuaikan dengan luas rumah yang dimiliki.

Jam sholat digital, jam digital dengan alarm sholat otomatis.

Kenapa di rumah diperlukan ruang khusus untuk beribadah? Padahal sebenarnya untuk umat muslim sendiri beribadah di masjid adalah keutamaan. Alasan utamanya adalah tidak semua orang bisa beribadah di masjid. Seperti yang kita tahu bahwa di zaman sekarang ini cukup banyak orang yang disibukkan dengan berbagai aktivitas. Mulai dari kedua orang tua yang bekerja seharian hingga anak-anak yang sibuk sekolah. Kondisi seperti ini membuat komunikasi dalam keluarga terkadang kurang terjalin dengan baik.

Nah disinilah salah satu fungsi adanya ruang khusus untuk beribadah atau bisa disebut dengan mushola kecil di rumah. Bagi Anda yang memiliki keluarga dengan kondisi yang sibuk seperti ini maka mushola kecil ini dapat bermanfaat sekali untuk menjalin kedekatan yang lebih personal dengan anggota keluarga yang lain. Meskipun Anda dan keluarga Anda tidak bisa sepenuhnya menggunakan mushola kecil ini untuk beribadah lima waktu berjama’ah, namun setidaknya Anda dapat menggunakan mushola kecil ini untuk melakukan ibadah yang lain.

Misalkan Anda sebagai kepala keluarga harus bekerja larut malam, tentu setidaknya Anda masih bisa melakukan sholat berjama’ah saat Subuh bukan? Selain itu Anda bisa juga memanfaatkan mushola kecil ini untuk kegiatan mengaji mungkin. Menyediakan sedikit waktu untuk mengaji bersama buah hati akan membuat perkembangan mereka lebih baik lagi.

Nah bagi Anda yang memang memiliki niatan untuk membangun rumah dan ingin menyediakan mushola kecil maka sebaiknya Anda melengkapi mushola kecil Anda dengan jam digital masjid. Jika Anda termasuk tipikal orang yang suka memperhatikan sekitar tentu saat Anda beribadah ke masjid, Anda akan menemukan jam digital masjid ini. Jam ini multifungsi karena selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, juga berfungsi sebagai penyedia jadwal sholat digital hingga jadwal imsya’.  Sebentar lagi umat muslim akan segera menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Tentu Anda membutuhkan penunjuk waktu beribadah termasuk jadwal sholat hingga jadwal imsya’ bukan?

Jika Anda merasa kurang cocok untuk meletakkan jam tersebut dimushola, Anda tidak perlu khawatir karena Anda juga bisa meletakkan jam digital masjid  ini di ruang keluarga atau ruang manapun yang sesuai dengan keinginan Anda . Jadi meskipun jam ini berpredikat sebagai jam digital masjid, namun tidak ada keharusan bagi Anda untuk meletakkannya di masjid atau mushola. Yang terpenting adalah Anda masih bisa mendapatkan manfaat utama dari jam ini untuk menunjukkan waktu dan jadwal sholat.

Lengkap bukan? Hanya dengan jam digital, Anda tidak akan kebingungan untuk menentukan jadwal sholat. Selain itu jam digital masjid produksi toko kami memiliki berbagai keunggulan yang patut Anda pertimbangan. Mulai dari kualitas produk yang selalu dijaga hingga proses pemesanan dan pembayaran yang mudah. Jadi tunggu apalagi? Ayo lengkapi mushola kecil Anda dengan jam digital dari kami.

Tiga Tempat Terlarang Untuk Sholat

Berdasarkan hadits shahih, riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam hal: aku diberi jawaami’il kalim (kalimat ringkas namun padat makna –pen), aku ditolong pada peperangan (dengan rasa takut pada dada musuhku), harta rampasan perang dihalalkan bagiku, bagiku bumi dijadikan untuk bersuci (tayamum) dan sebagai masjid (tempat untuk shalat –pen), aku diutus kepada seluruh makhluk, dan aku menjadi penutup para Nabi.”

Berdasarkan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa seluruh bagian permukaan bumi adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan, kamar mandi, dan kandang unta. Pengecualian tersebut disebutkan pada hadits-hadits berikut ini:

Dari Jundub bin Abdullah Al-Bajlaa, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda, “Ketahuilah bahwa umat sebelum kalian menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangnlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)

Dari Abu Sa’id Al-Khudry, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seluruh bagian bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Dari Barra ‘ bin Azib, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat di kandang unta, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian shalat di kandang unta, karena sesungguhnnya itu di antara tempat setan-setan.’ Dan beliau ditanya tentang shalat di kandang kambing, maka beliau bersabda, ‘Shalatlah kalian di sana karena dia merupakan tempat yang mengandung berkah.’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah dan Abu Daud)

Sumber: https://muslimah.or.id/505-dirikanlah-shalat-3-waktu-waktu-terlarang-dan-tempat-tempat-terlarang-untuk-melaksanakan-shalat.html

Waktu Terlarang untuk Melaksanakan Sholat

Yang dimaksud waktu-waktu terlarang pada pembahasan ini adalah waktu untuk melaksanakan sholat sunnah. Tiga waktu terlarang untuk mengerjakan sholat sunnah, yaitu:

  1. Waktu terbit matahari.
  2. Waktu condong matahari pada tengah hari.
  3. Waktu tenggelamnya matahari.

Dari hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau mengubur mayat pada waktu-waktu tersebut, yaitu ketika matahari terbit hingga dia meninggi, ketika bayangan seseorang tampak tegak lurus saat dia berdiri dia bawah sinar matahari hingga condongnya matahari, ketika pancaran sinar matahari semakin berkurang saat hendak terbenam hingga waktu terbenamnya.”

Terdapat perbedaan pendapat ilmiah di kalangan para ulama tentang tetap boleh atau tidaknya melaksanakan shalat sunnah pada waktu terlarang, jika ada sebab melaksanakannya. Dua pendapat ulama tersebut adalah:

  1. Sholat sunnah boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, jika ada sebab melaksanakannya.
  2. Sholat sunnah tidak boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, meskipun ada sebab melaksanakannya.

Dalam permasalahan ini pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama (yang membolehkan jika ada sebab). Wallahu a’lam. Di antara contoh sebab tersebut adalah shalat tahiyyatul masjid, shalat gerhana, istisqa’, dan shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.

Untuk menambah pemahaman kita dalam hal ini, berikut bebrapa contoh tentang penjelasan diatas:

  1. Kita masuk ke sebuah masjid untuk mengikuti pengajian pada pukul 06.00, bolehkah kita sholat tahiyyatul masjid padahal saat itu adalah waktu terlarang untuk shalat? Jawabannya: Boleh, karena kita memiliki sebab untuk melaksanakan shalat di waktu terlarang tersebut, yaitu karena kita masuk ke dalam masjid.
  2. Saat kita berwudhu pada pukul 11.30, apakah kita boleh melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah wudhu? Jawabannya: Boleh, karena sebab kita melaksanakan shalat sunnah tersebut adalah kita selesai melaksanakan wudhu. Shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu merupakan salah satu tuntunan dalam Islam yang ganjarannya begitu mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ketika shalat shubuh, “Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang sebuah amal yang paling engkau harapkan dalam Islam, karena aku mendengar suara kedua sendalmu berada di hadapanku di surga.” Bilal berkata, “Aku tidak mengetahui amalan yang paling aku harapkan (sebagai amal andalan) selain bahwasanya aku tidaklah berwudhu pada malam atau siang hari, melainkan aku akan shalat semampuku.” (Hadits muttafaq ‘alaih)

Adapun jika kita sekadar hendak shalat di waktu terlarang, tanpa ada sebab tertentu, maka itu tidak diperbolehkan.

Sumber: https://muslimah.or.id/505-dirikanlah-shalat-3-waktu-waktu-terlarang-dan-tempat-tempat-terlarang-untuk-melaksanakan-shalat.html

Kapan Seseorang Dianggap Mendapati Waktu Sholat?

Seorang dapat dikatakan mendapati waktu sholat apabila mendapati satu rakaat dari shalat pada waktu itu. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

Barangsiapa yang mendapati satu rakaat sholat, maka sungguh dia telah mendapat shalat tersebut.” (Muttafaq `alaih)

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, “Apabila salah seorang diantara kalian mendapati sujud saat shalat Ashar sebelum terbenamnya matahari, maka hendaklah ia menyempurnakan shalatnya. Apabila ia mendapati sujud dari shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, maka hendaklah ia menyempurnakan shalatnya.”

Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang mendapati satu rakaat dari waktu shalat dengan dua sujudnya, maka sungguh ia telah mendapati waktu shalat tersebut. Begitu juga pemahaman kebalikannya, barangsiapa yang mendapati kurang dari satu rakaat, dia tidak dianggap mendapati waktu shalat tersebut.

Akan tetapi, perhatikanlah dua perkara berikut ini:

  1. Apabila telah mendapati satu rakat sholat, maka ia dianggap telah mengerjakan shalat secara utuh, akan tetapi bukan berarti boleh mengakhirkan shalat dari waktunya, karena shalat itu wajib dikerjakan pada waktunya. Dari hadits Muslim yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu `anhu dia mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabada (yang artinya), “Itulah shalat orang munafik. Dia duduk menunggu matahari, sampai matahari telah berada diantara dua tanduk setan, baru mengerjakan shalat empat rakaat, tidak mengingat Allah di dalam shalatnya kecuali sedikit.”
  2. Apabila ia telah mendapati waktu shalat seukuran satu rakaat, wajib atasnya mengerjakan shalat.

Perhatikan contoh berikut ini:

  • Seorang wanita mendapat haid setelah terbenamnya matahari seukuran satu rakaat atau lebih dan ia tidak shalat Maghrib, maka tidak wajib atasnya mengerjakan shalat Maghrib dengan mengqadhanya ketika telah suci.
  • Seorang wanita telah suci dari haid sebelum terbitnya matahari seukuran satu rakaat atau lebih, maka wajib atasnya shalat Shubuh.

Sumber: https://muslimah.or.id/189-dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

Apakah Semua Sholat Fardhu Paling Utama Dikerjakan di Awal Waktu?

Seutama-utamanya shalat adalah sholat yang dikerjakan pada awal waktu, karena itulah yang diamalkan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan beliau orang yang paling pertama dan semangat dalam kebaikan.

Dalam Shahih Bukhari dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu `anhu bahwa ia pernah ditanya perihal shalat wajib Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, ia menjawab, “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melaksanakan shalat Zhuhur ketika matahari mulai bergeser -dalam sebuah riwayat: ketika telah tergelincir-, dan shalat Ashar ketika seseorang kembali ke rumahnya di tengah kota sedangkan matahari mulai menurun.”

Adapun shalat Maghrib, Imam Muslim telah meriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam shalat Maghrib apabila matahari telah terbenam dan hilang dari pandangan. Rafi’ bin Khadij radhiyallahu `anhu berkata, “Kami pernah shalat maghrib bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ketika seseorang pulang ia masih bisa melihat sasaran busurnya.”

Untuk shalat Isya’ diterangkan dalam Shahih Muslim radhiyallahu `anhu berkata, “Kami pernah menunggu kehadiran Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk shalat Isya’. Pada suatu malam beliau keluar telah lewat sepertiga malam, dan berkata, ‘Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan shalat bersama mereka seperti waktu sekatang ini.’ Kemudian beliau memerintahkan muadzin untuk menegakkan shalat (iqamat).”

Yang dimaksud sepertiga malam pada hadits tersebut adalah sepertiga malam awal dari total waktu antara waktu Maghrib dan Shubuh.

Misalnya, di wilayah Indonesia bagian barat di bulan Oktober, waktu Maghrib sekitar pukul 17.40 WIB dan waktu Shubuh sekitar pukul 04.10 WIB, maka jarak antara antara awal waktu Maghrib hingga awal waktu Shubuh adalah 11,5 jam. Jadi, sepertiga malam awalnya sekitar pukul 21.28 WIB. Adapun akhir waktu shalat Isya` adalah akhir awal dari seperdua malam. Semisal contoh kasus di atas, maka akhir waktu shalat Isya` di wilayah tersebut sekitar pukul 23.25 WIB (pen).

Waktu sholat Shubuh sebagaimana diterangkan dalam Shahih Bukhari, Aisyah radhiyallahu `anha berkata,

“Kami dahulu para wanita kaum muslimin pernah shalat Shubuh berjama`ah bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Mereka semua memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Ketika shalat telah selesai, meeka langsung lembali ke rumah dan tiak ada seorang pun yang mengenali mereka karena masih gelap.”

Sholat Zhuhur diterangkan dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu `anhu, dia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, kemudian mu’adzin hendak adzan Zhuhur. Melihat hal itu Nabi shallallahu `alaihi wa sallam berkata, “Tunda dulu sampai cuaca agak dingin.” Ia pun menaati perintah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Setelah menunggu ia hendak adzan kembali, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Tenang, biar agak dingin dahulu.” Hingga kami melihat bayangan itu sudah condong, beliau pun bersabda, “Sesungguhnya panasnya siang hari termasuk hembusan panas neraka Jahannam. Maka apabila siang hari sangat panas, tundalah shalat Zhuhur hingga agak dingin.”

Berdasarkan hadits-hadits di atas jelaslah bahwa yang sunnah (mustahab) adalah mengerjakan sholat pada awal waktunya kecuali dua shalat:

  1. Shalat Zhuhur, ketika siang sangat panas maka diakhirkan hingga agak mendingin dan bayangan memanjang.
  2. Shalat Isya’ yang terakhir, diakhikan hingga sepertiga malam kecuali dikhawatirkan akan memberatkan. Maka harus diperhatikan keadaan makmum, apabila mereka telah berkumpul hendaklah shalat disegerakan apabila makmum datang terlambat, shalat boleh diakhirkan.

Sumber: https://muslimah.or.id/189-dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

Mengerjakan Sholat pada Waktunya

Sholat adalah wajib hukumnya untuk dikerjakan pada pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 103 yang artinya:

“…sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Serta hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyebutkan perihal shalat dalam sehari, beliau bersabda (yang artinya).

“Barangsiapa yang mampu menjaganya, maka baginya cahaya penerang dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak menjaganya, maka dia tidak akan mendapat cahaya penerang dan keselamatan pada hari kiamat, ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.” (Imam Mundziri berkata, “HR. Ahmad dengan sanad yang bagus”)

Tidak Boleh Mendahului Waktu Sholat atau Mengakhirkannya

Seorang muslim tidak boleh mendahului untuk mengerjakan sholat seluruhnya atau sebagiannya sebelum masuk waktunya karena hal itu melanggar ketentuan Allah dan mempermainkan ayat-ayat-Nya. Apabila ia melakukannya karena udzur (seperti: jahil, lupa, atau lalai) maka ia tidak berdosa dan tetap mendapat pahala. Dia tetap wajib menunaikan shalat apabila waktunya telah masuk.

Seorang muslim tidak boleh pula mengakhirkan shalat dari waktunya. Apabila ia melakukannya tanpa alasan syar`i maka ia berdosa, shalatnya tidak diterima, dan wajib atasnya bertaubat dan memperbaiki amalannya di masa yang akan datang. Akan tetapi apabila ia mengakhirkan shalat karena udzur yang syar`i (seperti tertidur, lupa, dan lain-lain), hendaklah ia shalat pada saat udzurnya telah hilang. Berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ingat dan tidak ada kafarahnya selain itu saja.” Dalam riwayat yang lain: “Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur.” (Muttafaq `alaih)

Apabila sholat yang tertinggal karena udzur itu banyak, maka dikerjakan secara berurutan ketika udzurnya telah hilang dan tidak ditunda hingga esok hari. Berdasarkan hadits Jabir bin Abdullah radhiyallu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam saat perang Khandaq beliau berwudhu setelah matahari terbenam, kemudian beliau shalat Ashar dan diikuti dengan shalat Maghrib. (Muttafaq `alaih)

Sebagian ahli ilmu mengatakan, apabila seseorang mempunyai shalat yang tertinggal dan ia baru ingat ketika waktu shalat yang ada saat itu sudah hampir habis, maka hendaklah ia shalat yang ada pada waktu itu kemudian baru mengerjakan shalat yang tertinggal, agar ia tidak tertinggal shalat yang ada hingga nantinya menjadi dua shalat yang teringgal.

Sumber: https://muslimah.or.id/189-dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

Kapan Waktu Sholat Itu Tiba?

Syariat Islam telah memaparkan dengan jelas dan gamblang tentang masalah waktu-waktu sholat, yaitu di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Berikut ini dalil-dalil yang menjelaskan tentang waktu-waktu shalat.

Allah berfirman, dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 78 yang artinya sebagai berikut:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).

“dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam” Firman Allah tersebut menerangkan kepada kita waktu-waktu sholat yang empat, yaitu:

  • Zhuhur dan Ashar. Keduanya adalah shalat yang dikerjakan di waktu siang yaitu pada separuh siang yangterakhir.
  • Maghrib dan Isya’. Keduanya adalah shalat di waktu malam yaitu paruh pertama dari malam hari.

Adapun waktu shalat Shubuh dijelaskan dengan firman-Nya “dirikanlah pula shalat Shubuh”. Dari sini diketahui bahwa shalat Shubuh itu ketika fajar, yaitu terlihatnya sinar matahari di ufuk.

Adapun dalil-dalil as-Sunnah tentang waktu sholat, diantaranya ialah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu `anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Waktu shalat Zhuhur adalah setelah tergelincirnya matahari sampai saat bayangan seseorang sama seperti tingginya selama belum masuk waktu Ashar. Waktu shalat Ashar selama matahari belum menguning, sedangkan waktu Maghrib selama awan merah di langit belum hilang. Adapun waktu shalat Isya’ hingga tengah malam yang pertengahan, dan waktu shalat Shubuh sejak terbitnya fajar hingga sebelum terbitnya matahari.”

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa waktu shalat Isya’ hingga tengah malam dan tidak diterangkan tengah malam yang pertengahan.

Berikut perinciannya lebih detail dari ayat Al-Qur’an dan hadits tentang waktu sholat yang lima:

  1. Waktu shalat Zhuhur

Waktu sholat dzuhur mulai tergelincirnya matahari -yaitu matahari yang telah melintasi pertengahan langit- hingga tatkala bayangan segala sesuatu itu menjadi sama panjang dengannya, diawali dari bayangan ketika tergelincirnya matahari.

Lebih jelasnya, apabila matahari terbit maka bayangan segala sesuatu itu panjang lalu akan terus menerus memendek sampai tergelincirnya matahari. Apabila matahari telah tergelincir, bayangan akan kembali memanjang. Maka saat itulah masuk waktu sholat Zhuhur, kiaskanlah mulai dari kembalinya panjang bayangan matahari, apabila panjang bayangan sesuatu sudah sama, maka waktu Zhuhur telah habis.

  1. Waktu shalat Ashar

Waktu sholat Ashar dimulai ketika keadaan bayangan sesuatu sama panjang dengannnya, sampai saat matahari menguning atau memerah. Waktu ini bisa memanjang sampai terbenam matahari karena dharuri (darurat), bersadarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu `anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalat Shubuh sebelum terbitnya matahari, maka sungguh dia telah mendapati shalat Shubuh. Barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari shalt Ashar sebelum terbenamnya matahari, maka sungguh dia telah mendapati shalat Ashar.” (Muttafaq `alaih)

  1. Waktu shalat Maghrib

Waktu sholat Maghrib mulai dari terbenamnya matahari hingga hilangnyaawan merah.

  1. Waktu shalat Isya’

Waktu sholat Isya’ mulai dari hilangnya awan merah di langit hingga tengah malam, dan waktunya tidak bisa diperpanjang sampai terbit fajar karena hal itu menyelisihi zhahir nash (dalil) al-Quran dan hadits. Firman Allah (yang artinya), “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam,” Allah tidak mengatakan sampai terbit fajar. Demikian pula waktu Isya’ berakhir sampai tengah malam sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu `anhuma.

  1. Waktu shalat Shubuh

Waktu sholat Shuhuh mulai dari terbitnya fajar shadiq -yaitu bayangan putih yang membentang di ufuk timur, setelahnya tidak ada lagi kegelapan hingga terbitnya matahari.

Waktu-waktu shalat ini hanya pada wilayah yang malam dan siangnya 24 jam, sama saja malam dan siangnya sama panjang atau salah satunya lebih panjang atau lebih pendek.

Adapun pada wilayah yang malam dan siangnya bukan 24 jam maka keadaannya bisa jadi hal itu terjadi sepanjang tahun atau hanya pada sebagian hari saja.

Apabila terjadi hanya pada sebagian hari-hari saja, misalkan suatu malam dan siang 24 jam sepanjang musim dalam setahun; tetapi tahun berikutnya pada sebagian musim, malam menjadi 24 jam atau lebih, demikian pula siangnya. Maka dalam keadaan seperti ini bisa dilihat tanda yang terlihat di ufuk yang memungkinkan penentuan waktu, seperti bertambahnya cahaya atau redupnya secara keseluruhan. Hukumnya dikaitkan dengan tanda yang terlihat di ufuk. Jika tidak bisa demikian, maka waktu shalat dikira-kirakan pada akhir harinya sebelum datang malam yang panjanganya 24 jam atau siangnya 24 jam.

Apabila daerah yang malam dan siangnya bukan 24 jam, sepanjang tahun pada seluruh musim, maka waktu shalat ditentukan dengan dikira-kirakan.

Bagaimana kita memperkirakannya? Sebagian ulama berpendapat, hal itu diperkirakan dengan waktu yang pertengahan, malam diperkirakan 12 jam, dan demikian pula siangnya. Sebagian ulama lainnya berpendapat, waktu shalat diperkirakan dengan melihat negeri yang dekat dari daerah tersebut. Inilah pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kenyataan. Allahu a`lam.

Sumber: https://muslimah.or.id/189-dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

Siapakah yang Wajib Melaksanakan Sholat?

Orang-orang yang wajib mengerjakan sholat.
Shalat wajib dikerjakan oleh setiap muslim dan muslimat yang telah baligh dan berakal, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (3513), Sunan Abu Daud (12/78/4380) yang artinya sebagaimana berkut:

“Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang maknanya), “Pena diangkat atas tiga golongan: dari orang yang sedang tidur hingga dia bangun, dari anak kecil hingga dia dewasa, dan dari orang gila hingga dia waras (berakal).”

Wajib atas orang tua muslim untuk membiasakan anak-anaknya melaksanakan sholat sedari kecil meskipun anak-anak tersebut belum wajib melaksanakan sholat, kewajiban ini berdasarkan hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (5868), Sunan Abu Daud (2/162/419) lafazh hadits ini adalah riwayat Abu Daud, Ahmad (2/237/84), Hakim (1/197) yang artinya sebagai berikut:

“Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya), “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Tanda baligh bagi laki-laki dan perempuan adalah:

  1. Telah mencapai usia 15 tahun. Berdasarkan hadits tentang seorang anak laki-laki (yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu) yang belum dizinkan ikut berperang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena saat itu belum berusia 15 tahun.
  2. Telah mengalami “mimpi basah”.
  3. Tumbuh rambut pada kemaluan.
  4. Khusus bagi wanita, yaitu keluarnya darah haid dari farji.

Seorang muslim wajib mengerjakan sholat sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kewajiban tersebut dilaksanakan semaksimal kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak melakukan sholat ketika tidak ada udzur syar’i (misalnya: wanita yang sedang haid atau nifas). Jika seseorang mampu shalat berdiri, maka dia melakukannya sambil berdiri dengan menyempurnakan syarat sah dan rukunnya. Jika dia sakit, maka dia mengerjakannya sambil duduk. Jika tidak bisa sambil duduk, maka dilakukan sambil berbaring.

Sumber: https://muslimah.or.id/181-dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

Apakah Hukum Meninggalkan Sholat?

Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat

Telah menjadi kesepakatan kaum muslimin bahwa barangsiapa yang tidak menunaikan sholat lima waktu maka dia telah melakukan suatu perbuatan yang mengantarkannya kepada kekafiran.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum orang yang meninggalkan sholat tetapi orang tersebut tetap meyakini bahwa sholat itu wajib dikerjakan. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat adalah kafir, tanpa ada pembedaan yang tegas antara orang yang benar-benar mengingkari kewajiban sholat (al-jaahid) dengan orang yang sekedar meremehkan kewajiban shalat (al-mutahaawin).

Adapun pendapat yang lebih kuat dalam permasalahan ini adalah bahwa orang yang meninggalkan pelaksanaan shalat (meskipun dia yakin bahwa sebenarnya shalat itu wajib dikerjakan) maka dia telah kafir. Hal ini berdasarkan Dalil dari Al-Quran, Surah At-Taubah ayat 11, yang artinya:

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 11)

Serta Dalil dari Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Iman dari sahabat Jabir Ibn ‘Abdillah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya sebagai berikut:

“Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.”

Sumber: https://muslimah.or.id/181-dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

Kedudukan Sholat dalam Islam

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa sholat adalah ibadah yang paling utama untuk ditunaikan. Salah satu keutamaan shalat adalah bahwa sholat merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab di Hari Akhir kelak berkaitan dengan hak Allah atas hamba-Nya.

Sholat menempati kedudukan yang sangat mulia dalam agama Islam, hal ini sebagaimana yang dijelaskan melalui hadits dari ‘Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut ini:

‘Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya):

“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.”

Sumber: https://muslimah.or.id/181-dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

Show Buttons
Hide Buttons