Siapakah yang Wajib Melaksanakan Sholat?

Orang-orang yang wajib mengerjakan sholat.
Shalat wajib dikerjakan oleh setiap muslim dan muslimat yang telah baligh dan berakal, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (3513), Sunan Abu Daud (12/78/4380) yang artinya sebagaimana berkut:

“Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang maknanya), “Pena diangkat atas tiga golongan: dari orang yang sedang tidur hingga dia bangun, dari anak kecil hingga dia dewasa, dan dari orang gila hingga dia waras (berakal).”

Wajib atas orang tua muslim untuk membiasakan anak-anaknya melaksanakan sholat sedari kecil meskipun anak-anak tersebut belum wajib melaksanakan sholat, kewajiban ini berdasarkan hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (5868), Sunan Abu Daud (2/162/419) lafazh hadits ini adalah riwayat Abu Daud, Ahmad (2/237/84), Hakim (1/197) yang artinya sebagai berikut:

“Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya), “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Tanda baligh bagi laki-laki dan perempuan adalah:

  1. Telah mencapai usia 15 tahun. Berdasarkan hadits tentang seorang anak laki-laki (yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu) yang belum dizinkan ikut berperang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena saat itu belum berusia 15 tahun.
  2. Telah mengalami “mimpi basah”.
  3. Tumbuh rambut pada kemaluan.
  4. Khusus bagi wanita, yaitu keluarnya darah haid dari farji.

Seorang muslim wajib mengerjakan sholat sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kewajiban tersebut dilaksanakan semaksimal kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak melakukan sholat ketika tidak ada udzur syar’i (misalnya: wanita yang sedang haid atau nifas). Jika seseorang mampu shalat berdiri, maka dia melakukannya sambil berdiri dengan menyempurnakan syarat sah dan rukunnya. Jika dia sakit, maka dia mengerjakannya sambil duduk. Jika tidak bisa sambil duduk, maka dilakukan sambil berbaring.

Sumber: https://muslimah.or.id/181-dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

Show Buttons
Hide Buttons